Pada suatu waktu yang tidak ditentukan di masa depan, Amerika Utara musnah karena berbagai malapetaka dan peperangan. Di tempat bekas berdirinya, muncullah negara Panem, dengan Capitol sebagai ibukotanya dan tiga belas distrik yang tersebar disekelilingnya. Kemudian pada suatu waktu, muncullah gerakan pemberontakan nasional dari distrik-distrik yang disebut sebagai "Era Kegelapan" yang menandai gejolak kebangkitan perlawanan distrik-distrik terhadap pemerintahan Capitol yang diktator. Dua belas distrik dikalahkan, dan distrik ketiga belas dimusnahkan. Capitol memberi penduduk distrik undang-undang baru untuk menjamin perdamaian. Dan sebagai pengingat setiap tahunnya agar masa kegelapan itu tidak terulang lagi, Capitol menyelenggarakan Hunger Games. Peraturan Hunger Games sederhana. Sebagai hukuman atas para pemberontak, masing-masing distrik harus menyediakan satu anak lelaki dan satu anak perempuan yang berusia antara 12 sampai 18 tahun, yang dinamakan sebagai para peserta, untuk berpartisipasi. Dua puluh empat peserta akan dipenjara di arena luar yang sangat luas untuk bertanding. Selama hari-hari pertandingan, mereka harus bertarung dalam pertarungan sampai mati. Peserta terakhir yang bertahan hidup adalah pemenangnya.
Katniss Everdeen adalah seorang gadis berusia 16 tahun dari Distrik 12 yang tinggal bersama ibu dan adiknya setelah ayahnya tewas dalam kecelakaan tambang pada saat usianya 11 tahun. Pada hari pengundian peserta Hunger Games (hari pemungutan) ke-74, nama adiknya, Primrose Everdeen (Prim) terpilih sebagai peserta mewakili Distrik 12. Katniss yang sangat mencintai adiknya akhirnya menggantikan posisi Prim sebagai peserta. Kemudian, bersama peserta laki-laki dari Distrik 12 bernama Peeta Mellark, Katniss menyuguhkan acara The Hunger Games yang tak akan pernah terlupakan oleh seluruh warga Panem.
Sang penulis, Suzanne Collins, mengatakan bahwa inspirasi untuk menulis The Hunger Games datang dari salah satu acara realitas di televisi. Di acara itu ia menyaksikan orang-orang saling bersaing satu sama lain untuk menjadi pemenang dan disaat bersamaan, dia juga melihat cuplikan tayangan invasi Irak. Seperti dikutip dari pernyataan Collins di situs resminya:
"Saya menonton banyak acara realitas yang memperlihatkan para anak muda bertanding demi jutaan dolar. Lalu, saya melihat gambar-gambar perang Irak, dua gambar itu bercampur di pikiran saya, dan itu momen dimana saya mendapatkan ide cerita tentang Katniss"
Selain itu, tokoh mitologi Yunani Theseus juga menjadi salah satu inspirasi penokahannya. Collins menggambarkan Katniss Everdeen sebagai versi Theseus yang futuristik. Rasa kehilangan Collins terhadap ayahnya dalam Perang Vietnam juga mempengaruhi penokohan dalam cerita, yang terlihat dari kisah tokoh utama yang kehilangan ayahnya pada usia 11 tahun, lima tahun sebelum cerita dimulai.
No comments:
Post a Comment